Putri Pinang Gading

Hai, aku disini mau nulis  tentang "improvisasi" cerita rakyat  yang berjud Kisah Putri Pinang Gading. Sebenarnya aku masih bingung ini termasuk improvisasi atau tidak. Disini aku mengubah isi cerita agar lebih dapat diterima akal daripada cerita sebenarnya, sedangkan tema dan penokohan dalam cerita masih sama. Semoga ini termasuk improvisasi dan seperti biasa aku butuh masukan dan komentar dari kalian. Kalau mau baca cerita aslinya Kisah Putri Pinang Gading,supaya kalian bisa membedakan cerita asli dengan cerita yang ku improvisasi, selamat membaca.

Putri Pinang Gading
Disuatu desa yang masih belum terlalu berkembang hiduplah sepasang suami istri. Sang suami bernama Pak Inda dan istri bernama Bu Tumina. Mereka hidup sederhana bukan termasuk orang kalangan atas bukan juga kalangan bawah hanya hidup dalam artian hari ini dicari untuk keperluan esok hari. Perkerjan yang umum di desa ini adalah bertani dan melaut. Pak Inda dan Tumina sudah menikah 10 tahun tapi tak kunjung dikarunia seorang anak, mereka tidak pernah menyerah selalu memanjatkan doa pada Sang Pencipta mungkin nanti akan diberikan pada waktu yang tepat, mengingat usia mereka yang sudah menginjak umur 32 tahun untuk Pak Inda dan 30 tahun untuk Bu Tumiawa mereka menikah pada usia yang masih muda. 

"Bu, ayah pergi melaut dulu". Pak Inda berpamitan kepada bu Tumina. Pak Inda memang selalu pergi melaut setidaknya sekali seminggu, supaya mendapat lauk yang sedikit enak setidaknya sekali seminggu. 

"Baik pak, hati-hati jangan terlalu sore kembali." Pesan bu Tumina, akhir-akhir ini memang hujan sering datang dan diselingi dengan angin kala sore menyapa, hal itu menberikan sedikit keresahan pada ibu Tumina, kala suaminya itu akan pergi melaut.
Pak Andi mengangguk dan tersenyum kepada istrinya itu, dan belalu pergi setelah ibu Tumina menyalam tanganya.

Disaat seperti ini ketika Pak Andi pergi melaut, ibu Tumina akan pergi keladang sendirian membersihkan  rumput yang tumbuh di sekitar tanaman sayur adalah pekerjaan yang ia rencanakan untuk hari  ini, ketika langit sudah mulai gelap bukan karena akan segera malam tapi karna mendung bu Tumina segera menyelesikan pekerjaan tak lupa ia mengambil beberapa helai sayur sawi, beberapa buah tomat untuk lauk nanti malam bersama suaminya. 

Bu Tumina memandang kearah jalan dengan sedikit resah dalam hati, ia sudah selesai membersihkan diri setelah pulang dari ladang dan menyiapkan makan malam, suaminya tak kunjung juga datang, hujan semakin deras berteman angin yang sedikit memberikan rasa dingin tapi tak begitu dengan bu Tumiwa, perasaan cemas membuat badanya terasa panas. Hingga gelap malam tak kunjung ia lihat suaminya datang. Mata melirik kearah jam, sudah jam 9 malam tapi tak juga suaminya itu muncul hingga air bening jatuh dari pelupuk matanya.

"Dimana kau suamiku?". Ucap bu Tumina seakan bertanya pada diri sendiri. Sudah dari sore tadi ia tak kunjung pergi meninggalkan bibir pintu hanya berdiri disana menunggu sang suami kembali.

Tepat pada jam 10.00 malam ia melihat siluet suaminya datang, ketika sampai dipintu rumah, Tumiwa menggenggam tangan suaminya itu sambil berucap "kemana kamu mas, tak taukah kau aku sangat kuatir?" Ucapnya sesegukan. 

"Maafkan aku istriku, aku bukan ingin membuatmu kawatir, aku sedang membantu nelayan yang tenggelam tadi di laut". 

" Siapa yang tenggelam?". Bu tumina bertanya, dia sudah mulai tenang sekarang. 

"Pak Budi". Ucap Pak Inda diakhiri suarah desah putus asa. 

"Kenapa mas, kenapa wajahmu seperti kecewa begitu?". 

"Kami terlambat menolongnya bu, kami terlalu lama datang mencarinya". Pak Inda dan teman-teman nelayan lain memang mencari ikan sendiri-sendiri tetapi mereka pergi bersama dan pulang juga bersama, entah mengapa itu menjadi tradisi di desa itu. Dan pagi ini mereka melakukan hal itu juga mengingat siapa-siapa saja yang pergi mencari ikan, dan ketika sore berkumpul kembali jika semua nelayan sudah kembali maka mereka akan kembali kerumah masing-masing. Sore ini, entah mengapa pak Budi sedikit lebih lama kembali, dan Pak Indai serta kawan-kawan tidak merasa ada yang aneh dengan hal itu, sampai hari gelap mereka mulai resah mereka mencari Pak Budi setelah dicari beberapa lama mereka menemukan pak Budi tak bernyawa lagi di tepi pantai mungkin terbawa oleh ombak.

Suasana duka menyelimuti rumah Pak budi, terlihat disana istrinya yang bernama Bu Elsa sedang mengandung  dan diketahui usia kandungan Istri pak Budi sudah 7 bulan.

Waktu berlalu kini Istri pak Budi melahirkan, ketika anak itu lahir ibu Elsa tidak sanggup hingga ia menghembuskan nafas terakhir. Orang-orang melihat iba anak itu anak yang akan tumbuh tanpa seorang ayah dan ibu, anak yang belum memiliki nama itu. 

Masyarakat desa berkumpul membicarakan apa yang akan diperbuat terhadap anak itu. Ditengah-tengah kebingungan warga Pak Andi memberi mewarkan diri mengangkat anak itu menjadi anak mereka mungkin ini rencana Tuhan. 

"Bolehkah kami rawat anak itu?". Sedikit hening awalnya, tapi setelah itu semua warga tersenyum, tanpak setuju dengan apayang diinginkan pak Inda mengingat mereka juga sudah lama menantikan seorang anak tak kunjung diberi Sang Pencipta, dan juga Pak Budi tak memiliki saudara lain yang bisa merawat anak itu.

"Tentu saja pak, bagaimana dengan Bu Tumina?". Kepala desa yang memimpin perkumpulan itu, ingin memastikan pada istri Pak Inda.

"Itu berkat untuk kami pak". Jawab bu Tumina, sembari mendekat kearah anak perempuan itu. 

"Nama apa yang akan cocok untuknya pak" ucap bu Tumiwa kearah pak Inda.

" Putri Inang Gading". Nama itu seperti sudah dipersiapkan oleh pak Inda sejak lama, dan Bu Tumina tersenyum nampak suka dengan nama itu.

"Putrimu sepertinya menyukai namanya". Ucap salah satu warga ketika melihat gadis kecil itu tersenyum .

Hari demi hari Putri kian bertambah besar, gadis itu seakan melengkapi kebahagiaan pak Inda dan istrinya Tumiwah, dia mengisi setiap kekosongan yang ada pada keluarga itu. Menjadi pelengkap yang mendapat kasih sayang penuh layaknya keluarga kandung. 

"Ibu, aku ingin makan sayur buncis nanti bolehkah ku petik sekarang?". Ucap Putri sedikit berteriak ke arah Bu Tumina yang sedang memetik buah kopi. 

"Tentu putriku, nanti kita masakkan". Sambut bu Tumiah, apa yang menjadi permintaan anak itu seperti menjadi 'kewajiban' bagi pak Inda dan bu Tumina.

"Ambilkan tomat untuk ayah." Pak Inda ikut bergabung dengan percakapan ibu dan anak itu. Pak Inda memang suka menjadikan tomat mentah sebagi sayur ketika makan, rasa asam memberikan sesuatu ketika makan katanya. 

"Tidak ada kata penolakan untuk ayah". Ucap Putri seakan merayu ayahnya itu. 

Begitulah kegiatan Putri hingga ia beranjak menjadi anak sekolah, ketika pulang yang ia kerjakan masih sama pergi keladang untuk membantu orangtuanya atau sekedar membuat sesuatu untuk dimakan orangtuanya ketika istirahat seperti singkong goreng. 

Putri akan segera menyelesaikan masa sekolah menengah atasnya, ia tidak memiliki rencana lain selain membantu orangtuanya. 

"Nak, pergilah ke kota untuk melanjutkan studimu ke perguruan tinggi". Ucapan pak Inda tadi malam masih terngiang dikepala putri, dia tidak ingin meninggalkan orangtuanya disini.

"Mungkin mereka lelah membesarkanmu dan mereka merasa lelah akanmu, makanya mereka ingin kau pergi merantau". Iti adalah tanggapan Sindi, teman satu sekolahnya Putri ketika ia bercerita tentang perkataan orangtuanya tadi malam. 

"Benarkah?". Putri mungkin terlalu lugu, dia terlalu mudah untuk mempercayai kata temanya itu. 

"Jika mereka menyayangimu, tidak mungkin mereka mengirimmu ke kota, kehidupan kalian sudah semakin baik sekarang untuk apa pergi ke kota?". Putri setuju dengan perkataan temanya itu, mengapa ayahnya menyuruh ia pergi ke kota untuk melanjutkan studi, jika ia tamat kuliah toh mencari kerja juga, lebih baik disini pekerjaan sudah jelas, ‘apa benar ayah tak sayang lagi padaku?’ Itu yang muncul dipikiran Putri.

"Merenungkan apa putriku?". Bu Tumina mendekat, mengelus punggung putrinya itu dengan lembut.
"Ibu apa ayah tidak sayang padaku lagi?". Bu Tumina heran dengan pertanyan Putri.

"Memangya apa yang ayah mu perbuat?". Selidik bu Tumina.

"Mengapa ayah menyuruhku ke kota, aku ingin disini bersama ayah dan ibu". Putri mulai menangis sambil memeluk ibunya. 

"Memangnya jika ayah menyuruhmu pergi kekota, apa itu bisa diartikan tidak menyayangimu?". Pak Inda kini ikut bergabung dengan ibu dan anak itu.

"Kata teman Putri, ayah mengirimku kesana agar ayak tidak melihatku lagi, disana aku akan mencari makan dan hidup sendiri". Putri semakin menangis dalam pelukan ibunya. 

"Kau lebih percaya apa kata-kata orang itu dari pada ayahmu sendiri". Pak Inda menegang, dikala ia ingin putrinya itu memiliki pengetahuan lebih dari dirinya salah diartikan oleh putrinya itu. Pak Inda mendekat menarik tubuh anaknya itu dari pelukan ibunya, membawanya dalam pelukanya. 

"Ayah menyuruhmu kesana agar kelak kau memiliki ilmu lebih dari ayah agar kau bisa memberikan ilmu yang kau miliki itu untuk desa kita ini, benar jika kau akan hidup sendiri disana tapi ayah akan membiayaimu dari sini".  Pak Inda menjelaskan pada putrinya itu. 

"Tapi aku sudah mendapat ilmu yang banyak dari ayah. Terkadang ayah juga lebih baik dalam menjelaskan dari guruku disekolah, ayah juga mengajariku banyak tentang becocok tanam. Apalagi yang aku butuhkan ayah?". Kini putri melihat lekat-lekat kearah ayahnya.

Disana banyak yang bisa kau pelajari nak, ayah hanya bisa mengajarimu menambah dan mengalikan, ayah hanya bisa mengajarimu tentang bercocok tanam secara tradisional disana kau dapat mencari ilmu lebih, percaya pada ayah". Pak Inda menatap lekat-lekat putrinya itu, mencoba menyakinkan dengan tatapanya. 

Hari dimana Putri berangkat kekota tiba, dia diantar oleh ibu dan ayahnya. Mendaftarkanya pada Universitas Swasta jurusan Pertanian dengan harapan kelak ia bisa meyalurkan pengetahuanya itu untuk desanya. 

Awalnya berat memang untuk Putri tapi ia semakin sadar apa yang ayahnya katakan, ayahnya itu memang tak pernah salah ia belajar banyak disini bukan hanya bercocok tanam, tapi belajar mengenai tanah, pupuk dan lain-lain yang berhubungan denga pertanian hingga bisnis pertanian pun ia pelajari.
Waktu berlalu begitu cepat tak ada yang bisa menghentikanya. Putri tiba disaat paling membahagiakan bagi para mahasiswa 'wisuda'. Pak Inda dan Bu Tumina terlihat bahagia melihat putri mereka itu memekai jubah lengkap dengan toga dan ijazah di tanganya. Putri tak mendapat gelar mahasiswa terbaik tapi lulus tepat waktu itu sudah cukup untuknya, karna tugas yang akan ia emban akan lebih berat tentang bagaimana membangun pertanian yang lebih baik dengan ilmu yang ia dapat untuk desanya. 

Sedikit demi sedikit Putri pelajari, jika jenis tanah didesanya dia sudah paham, tinggal menentukan jenis apa yang paling cocok untuk ditanam disana, hampir semua tanaman dari umbi-umbian dan biji-bijian tumbuh subur disana. Dahulu desanya hanya menanam Ubi kayu sekarang mereka juga menanam kentang dan juga wortel hingga beberapa sayur mayur seperti sawi, kol dan yang lain.
Sedikit demi sedikit desa itu ekonominya bertambah baik berkat beberapa tanaman yang mereka tanam yang bisa dijual ke kota dangan hasil panen yang baik, hari demi hari membawa perubahan pada desa itu. Semakin banyak yang berkunjung kedesa itu untuk mendapat pasokan untuk sayur mayur dan merekapun menambah tanaman buah-buah yang akan menambah pendapatan pada desa itu .

"Terimakasih putriku". Pak Inda berbisik lalu memeluk putrinya itu. 

"Aku yang berterimakasih ayah, terimakasih sudah menjadikanku putrimu".

Bu Tumian hanya terenyum melihat ayah dan putri itu, jika saja dulu putri tak mau pergi belajar ke kota mungkin desa mereka tidak semaju ini tidak ada pertambahan tanaman yang akan diketahui oleh para warga desa itu. Berkat Putri ada sedikit kemajuan untuk desanya itu. 

Hari ini didesanya ada perayaan  untuk mengucap syukur pada Sang Pencipta untuk hasil panen yang mereka dapat. Merayakan bersama-sama dengan makan bersama tak ada perbedaan apa yang dimiliki itulah yang dibawa untuk bahan masakan dan dimakan bersama-sama warga. 

"Terimakasih ya nak". Ucap pak kepala desa kepada Putri. 

"Terimakasih juga pak mau mendengar masuka saya kemarin". Memang benar Putri lah yang menyarakan jika desanya itu harus mulai berbenah menanam berbagai tanaman lain yang lebih bermanfaat. 

Melihat kebahagiaan para warga didesa, putri merasa bangga pada diri sendiri, bukan ingik membanggakan diri tapi memuji diri sendiri tak ada masalah bukan.

Selesai, Termakasih sudah membaca.
Jangan lupa Jejak coment, kritik sangat dibutuhkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjelajah Berastagi hingga Tongging

Puisi Berjudul Danau Toba

Tentang Dia