Pohon di dekat gerbang sekolah

Cerita ini sudah lama ditulis, tapi karena kemarin hp rusak jadi tulisanya di memopun hilang dan aku bingung menuliskannya kembali jadi kurang jelas dan tidak nyambung ceritanya, mungkin nanti perlu diperbaiki lagi.

Pohon di Dekat Gerbang Sekolah
Memiliki kehidupan di asrama menurutku bukan hal yang nenyenangkan, selain keluarga yang jauh di asrama juga banyak aturan yang harus diikuti membuatku sedikit jenuh. Peraturan diasramaku, kembali kerumah diperbolehkan setiap hari saptu tetapi harus kembali esok hari paling lama jam 8 malam.

"Don, besok kerumahku yok". Aku duduk di dekat Doni teman sekamarku.

"Kau bisa menjamin kita tidak terlambat kembali besok?". Doni bertanya kembali kearahku.

"Rumahku tidak jauh, kita hanya perlu berjalan kesimpang, dari situ naik bus sekitar 2 jam kerumahku, rumahku tidak jauh dari jalan hanya perlu jalan kaki sedikit". Aku meyakinkan Doni dengan menjelaskan dimana rumahku, dan aku yakin jika dia mau ikut denganku.

Setelah jadwal sekolah untuk hari sabtu sudah selesai dan kembali ke asrama untuk memberekan kamar, lalu membawa beberapa pakaian, aku dan Doni bergegas pergi kesimpang dari gerbang belakang, ya sekolahku memiliki 2 gerbang satu dari depan dan satu lagi dari belakang sekolah, gerbang belakang hanya dibuka pagi hingga siang sedangkan gerbang belakang dibuka dari pagi hingga pukul 9 malam, sedangkan gerbang untuk masuk keasrama memiliki gerbangkeasrama Dan kami memilih lewat gerbang belakang sekolah karena simpang untuk mengabil bus kearah rumah lebih dekat dari sana.

"Kenapa sih ni pohon masih disini aja, ditebang kenapa sih, capek yag bersihin daun-daunya". Gerutuku ketika melewati melewati pohon yang dekat dengan gerbang sekolah.

"Biarin aja kali, Raf lagian yang bersiin juga tidak mengeluh".

Kami melanjutkan perjalan kesimpang untuk mendapat bus kearah rumahku.

Tak banyak yang kami lakukan dirumah, karena minggu siang kami sudah harus kembali keasrama. Hanya memaikan PS yang sudah tidak kusentuh selama beberapa bulan, menyantap makanan yang disiapkan oleh ibu yang memanh hobby memasak.

Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang dan ini waktunya kami kembali keasrama. Tapi entah mengapa bus yang kami berhetikan sedari tadi tidak ada yang mau berhenti, dan ketika kami mendapat bus jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, aku dan Doni sedikit was-was jika terlambat.

Ketika kami sampai di simpang asrama jam sudah menunjukkan pukul 8.30 dan kami masih harus berjalan dari simpang keasrama, kami memutuskan untuk memanjat gerbang dibelakang sekolah karena jika lewat gerbang depanharus melewati pos satpam dan aku yakin hal itu akan membuat kami dihukum.
"Naik duluan Raf". Doni menyuruku untuk memanjat gerbang terlebih dahulu.
"Samaan aja tok Don". Doni mengangguk kami pun berhasil menaiki gerbang itu.

Aku melirik kedepan sedikit, ada seorang wanita disana. Aku dan Doni mendekat.
"Hei, apa mau keasrama juga". Doni bertanya kearah wanita itu. Dia hanya menggangguk engah kenapa aku tidak nyaman dengan pandangan yang ia berikan.

Kami bergegas meninggalkan gerbang belakan sekolah, sedikit tergesa-gesa berjalan kearah asrama.

"Nama mu siapa dan kas berapa". Aku coba bertanga pada wanita itu, dia masih menatapku dingin ada yang aneh dengannya, atau aku yang aneh melihat seseorang yang menggunakan baju seperti jaman duu dan tas ia gubakan juga.
Dia hanya menjnjukman kartu identitas kearahku. Putri Ningsih tertera disana.
Kami terus berjalan hingga kini kami sampai didepan asrama, mengendap-endap masuk kedalam berharap tidak ketahuan agar tidak mendapat hukuman esok hari.
Aku mendengar suara kaki ketika kami tiba ditangga yang akan menuju ke kamar tempat tidur para asrama dan tangga itu dibedakan tangga sebelah kiri kearah asrama laki-laki dan tangga sebelah kanan untuk tangga perempuan. Ketika ingin menaiki tangga seseorang datang dari belakang.
"hey kalian". Mendengar suara itu kami pun menghentikan langkah.
"kalian baru kembali ke asrama?". Kami hanya membalas perkataan orang itu, lebih tepatnya pak Budi yang memang selalu melakukan ronda pada malam hari.
"ini sudah jam 10 malam kenapa baru kembali keasrama, serahkan tanda pengenal kalian dan jumpai saya besok". Kami hanya memberi kartu tanda pengenal kepada bapak budi, aku melirim kearah Putri dan dia tak ada lagi disana.
"Dimana Putri? " aku bertanya pada Doni.
"Mungkin ia sudah naik". Doni menyahut.
"Pak tadi ada teman kami satu lagi Putri." Aku coba mengadu pada pak Budi.
"Tadi bapak sudah mengikuti kalian dari gerbang belakang, yang bapak lihat hanya kalian berdua". Ucapan itu membuat kku sedikit merinding, segera ijin kepada bapak budi dan pergi ke lantai dua bersama Doni dengan perasaan cemas.

Pagi ini yang kami lakuman pertama kali adalah menjumpai pak Budi, kami masih bersikukuh jika ada wanita bersama kami tadi malam tapi pak Budi bilang tidak ada.
"Jika kalian tidak percaya mari kita periksa di komputer siswa disini apa ada nama Putri Ningsih di daftar atau tidak". Dan setelah melakukan pengecekan hasilnya nihil tak ada nama putri di daftar Anak sekolah ataupun penghuni asrama, aku sedikit cemas tentang hal itu.
"Apa ada yang kalian lakukan ketika lewat dari pintu belakang?". Kini ibu Rominah bertanya tentang kami.

Aku dan Doni berfikir sebentar tapi tak menemukan kesalahan atau hal aneh yang kami lakukan disana.
"Sebelum kami pulang kerumah Rafka, dia sempat mengomentari tentang pohon yang ada didekat gerbang bu". Doni berucap. Bu Rominah seperti menarik nafas dan membuangnya.
"Lain kali jangan mengomengari tentang pohon itu, sekarang kemnalilah kekelas kalian masing-masing". Aku masih sedikit bingung dengan perkataan bu Rominah.

"Emang kenapa sih Don dengan pohon itu?". Aku coba bertanya pada Doni.

"Setauku ada ada kecelakaan disana, ada mobil yang tiba-tiba hilang kendali dan menabrak pohon itu dan disana sedan ada seorang siswa yang sedang berlindung dari panas matahari dan dia ikut tertabrak dan setauku meninggal di tempat, awalnya pohon itu ingin ditebang tapi jika ingin ditebang siswa itu selalu muncul makanya dibiarkan". Aku mendengan perkataan Doni.

"Aku juga sudah merasa aneh sejak kita menunggu bus untuk kembali keasrama, tidak ada Bus yang mau berhenti bukan, lalu ketika kita sampai disimpang berjalan dari sana ke gerbang belakang hanya butuh 15 menit sedangkan yang kita butuhkan lebih dari satu jam dan sebenarnya aku merasa aneh pada Putri wajahnya sedikit pucat dan sejak ia muncul bulu kudukku selalu merinding". Doni melanjutkan cerita.

"Kau percaya cerita seperti itu?". Aku bertanya pada Doni.
"Aku percaya tidak percaya, aku percaya Tuhanlah maha kuasa". Aku tau maksud Doni, dia ingin mengatakan untuk tidak takut karena kita juga punya Tuhan

Komentar

  1. Mbak Din, perhatikan penulisan judul ��

    BalasHapus
  2. Alurnya bagus kak. Tapi, banyak typo dan tanda baca yang kurang tepat

    BalasHapus
  3. Paragrafnya terlalu gendut.. semangat yaa

    BalasHapus
  4. Aku punya koreksi di Paragraf kedua. Selain tempat di asrama yang di-nya harus dipisah. Aku melihat paragraf kedua ini kurang efektif Kak kalimatnya.

    BalasHapus
  5. Wah, ceritanya panjang 😁 coba kak paragrafnya diberi spasi di beberapa dialog.

    Semangat kak menulisnya😀

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjelajah Berastagi hingga Tongging

Puisi Berjudul Danau Toba

Tentang Dia