Sang Panutan

Sang Panutan
Sudah beberapa hari ini hujan sering mengguyur kotaku, hujan akhir-akhir ini tidak terlalu lebat dan membuat khawatir, mengingat beberapa bulan lalu ketika hujan datang maka akan menimbulkan kekawatiran akan banjir yang akan melanda kota ini, terkususnya lingkunganku yang  memiliki parit kecil yang tidak akan sanggup menampung air hujan yang banyak. Aku masih ingat waktu itu ketika hujan datang tengah malam,hujannya tidak terlalu deras jadi kata ayah sepertinya tidak akan apa-apa dan kami pergi tidur tanpa kuatir akan banjir,tapi ketika pagi datang ruang tamu rumahku sudah tergenang oleh air, sejak saat itu meskipun air hujan tidak deras maka kami harus tetap waspada.
Disore hari seperti ini jalan di depan rumahku akan banyak dilalui oleh kendaraan baik roda 2 ataupun roda 4, meskipun jalannya tidak terlalu besar tapi sering digunakan sebagai jalan memotong kepusat kota, terkususnya orangtua yang akan mengantar atau menjemput anaknya sekolah, jalan ini adalah alternative untuk mempercepat waktu sampai kesekolah yang berada dipusat kota ataupun sebaliknya untuk kembali kerumah.
Aku memandang kearah jam tanganku sudah menunjukkan pukul 17.37, itu artinya sudah sekitar 30 menit hujan datang membasahi bumi khususnya lingkungan tempatku tinggal ini. Aku sedikit melirik kearah depan jalan depan rumah dikala bunyi klakson yang bersahut-sahutan sedari tadi menimbulkan bising yang mengganggu telinga. Penasaran dengan alasan orang-orang membunyikan klason itu memaksa kakiku berjalan kedepan rumah, aku menemukan banyak kendaraan disana bisa dibilang itu macet. “Ada apa ayah? “Aku bertanya pada ayah, yang baru saja masuk kehalaman rumah. “Itu ada mobil masuk ke kubangan didepan, kau taukan di depan rumah Anto ada kubangan nah ada mobil yang masuk kesana, karna itulah macet”. Aku mengangguk mendengar penjelasan ayah, mungkin si pengemudi tidak tau jika disana ada kubangan karena tergenang air hujan.  Dan juga kubangan itu lumayan dalam, enah apa yang menjadi alasaan tak kunjung diperbaiki, ya meskipun itu di pinggir jalan tapi harusnnya ada tidakan pemerintah setempat karena itu membahayakan bagi masyarakat.
“Ayah kesana dulu” Ucap ayah yang keluar dari rumah. “Mau apa ayah kesana?” tanyaku sedikit mengerutkan keningg.” Kau ini, tentu saja untuk membantu mengangkat mobil itu, memang kau mau semalaman kita mendengar klakson mobil disini terus?”. Aku hanya menggaguk, mengiyakan apa kata ayah. “Aku ikut ya ayah?”. Ucapku merenggek kearah ayah, dan ayah hanya menggangguk mengiyakan permohonanku. Aku melihat banyak orang sudah ada disana, tapi hanaya beberapa orang yang berusaha memikirkan bagaimana mengeluarkan mobil itu dari lubang, selainya hanya melihat-lihat dan tentu saja asik memvidiokan kejadian tersebut, aku hanya menggeleng sedikit miris dengan keadaan kita saat ini. Dan tentu saja aku salut dengan ayahku yang pulang kerumah untuk meletakkan tas kerja dan kembali kesini membantu. Setelah setengah jam berusaha mengangkat stengah badan mobil itu akhirnya bisa keluar dari kubangan tersebut. Aku menatap ayah yang basah kuyup dan sedikit kedinginan  tapi sebuah senyum diwajahnya mengisyaratkan dia lega, dan sipengemudi mengucapkan terimakasih pada ayah dan beberapa orang yang ikut membantu yang juga masyarakat lingkunganku.
Setelah pengemudi mobil itu pamit pergi aku dan ayah kembali kerumah, dikala berjalan menusuri jalan aku melihat sesorang membuang sampah plastik dari dalam mobil, dan aku terkejut dengan apa yang ayah lakukan memungutnya dan mengetok kaca mobil orang itu .”Maaf, pak jangan buang sampah sembarangan, jika nanti sampah ini mengakibatkan banjir bukan bapak yang susah tapi kami orang tinggal dilingkungan ini”. Ayah mengucapkan kata-kata itu tidak dengan nada marah tapi lembut, aku menatap wajah pengemudi itu sedikit memerah tanda ia malu dan memungut sampah plastic yang ia buang dari tangan ayahku.
                Hanya beberapa saat ini aku belajar pentingnya budaya saling menolong, ayahku pernah mengatakan jika menolong seseorang bukan mengharapkan bayaran atau pujian tetapi yang mendorong ia melakukan itu adalah pikirang tentang apa yang ia harapkan jika ia berada pada posisi itu yang ian harapkan adalah bantuan itulah yang menjadi pedoman ayah untuk selalu menjujung tinggi budaya menolong semampu kita. Dan satu lagi yang aku kagumi dari sosok ayah, orangnya yang selalu peduli terhadap lingkungan meskipun itu hal kecil, seperti membuang sampah sembarangan karna jika sampah menumpuk akan memungkinkan untuk mengakibatkan banjir terkususnya sampah plastik, dia selalu memberi nasehat padaku bukan hanya aku siapa saja yang ia lihat membuang sampah sembarang akan mendapat nasehat panjang lebar dari beliau.
.
Maaf jika ada bagian yangambigu, masih semangat NgeODOP.
#Tantangan1 Tema : Basah, Plastik, Macet

Komentar

  1. Si Ayah ini pasti anak Pramuka. Karena telah mengajarkan ajaran Dasa Darma dan sistem among yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo. Di depan memberikan teladan.

    BalasHapus
  2. semangat..oiya ada typo sedikit diparagraf ke tiga bagian"enah apa yang menjadi alasaan".

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah makasih kak, padahal udh aku periksa sebelum ngepost, ntar aku perbaiki lagi

      Hapus
  3. Mbaaaaak ... pada beberapa bagian, aku merasa ngos-ngosan saat membaca ��. Mungkin bisa disiasati dengan memenggal beberapa kalimat.

    Lalu, tolong bedakan penulisan "dikala" atau "di kala".

    Semangat ngODOP ya ❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. oke kak makasih masukanya,
      saya merasa itu juga yang menjadi kekurangan saya, masih hrus belajar bagaimana mmbuat sebuah cerita mengalir seperti sungai tidak terlalu tergesa-gesa.

      Hapus
  4. Wuih, panjangnya ni cerpen.. semangat sekaliii.. ^^
    Mantap, dan lanjutkeun!!! :)
    .
    .
    Arsilogi.id

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjelajah Berastagi hingga Tongging

Puisi Berjudul Danau Toba

Tentang Dia