Puisi : Penuntun Arah
Penuntun
Arah
Bernegoisasi dengan kaki
Untuk ikut serta melangkah
Tapi Masa lalu seakan mengikatnya
Membawa beban kuat pada kaki
Menyeretpun aku tak sanggup
Memaksa hati untuk tak merasa cemas
Menelan ketidaknyamanan
Dalam hati yang terbiasa mememahami kesepian
Hingga tak tau mana sepi ramai
Namun rasa takutku kian menantang
Bersikap buas
Memporaporandakan keyakinan
Hingga hancur
Memimpikan kedatangan sang malaikat
Senyum tipis menggambarkan betapa lugu diri ini
Memahami ara seakan mengerti ketua yang menemui mereka
Menunjuk arah kemana kaki harus melangkah
Atau hanya sekedar berdiri disampingku
Bukan tempat untuk mencari Semenjana yang kuinginkan
Hanya tempat mensyukuri karya Sang Pencipta
Komentar
Posting Komentar