Perbedaan dan Tujuan
Perbedaan dan Tujuan
Perkuliahan
semester tiga sudah dimulai,kampusku memberikan kebebasan untukmahasiswa
memilih grup kuliah yang diinginkan,itu membuatku sedikit senang karenabisa
memilih dosen yang menurutku mampu membuatku berkembang,tetapi juga memberiku
sedikit masalah,jika grup yang aku inginkan penuh aku harus memilih grup lain
yang belum tentu aku suka. Seperti saat ini,aku sedikit kesal masuk ke grup
ini, bukan karena dosenya yang tidak ku sukai tapi,aku tidak satu grup dengan sohibku
sejak semester satu, Putri. ‘Aku harus mencari teman lagi’ gerutuku dalam hati,
mencari teman bukan sulit bagiku tapiaku sudah terlalu cocok dengan Dian.
“Boleh
aku duduk disini?”. Aku menoleh kearah suara itu. “Tentu”ucapku
mempersilahkanya. Aku memperhatikan orang yang duduk disebelahku, sepertinya
dia orang yang sangat serius dan juga pintar itu bisa terlihat dari
aktivitasnya dari tadi membaca notebook dan mencoba menjawabnya. Aku sedikit
tertarik ingin tahu tentangnya,jadi aku mencoba menbuka pembicaraan. “Itu
soal-soal akuntansi keuangan kan? Sepertinya terlihat mudah bagimu”ucapnya
kearahku. Äku hanya mengikuti mengikuti contoh yang ada kok”ucapnya sambil tersenyum
kearahku. “Aku masih kesulitan dengan Akuntansi,karena jurusanku ketika SMA itu
IPA, bisakah kita belajar bersama?”. Dia menatapku dan lagi-lagi
tersenyum.”Tentu saja boleh”. Aku sangat senang mendengar kata-kata itu.
“Tapi,apa aku boleh tau siapa namamu?”. Aku sampai lupa dari tadi kami
berbicara tidak menayakan siapa namanya. “Anastasya, kau bisa panggilaku Ana”
Ucapku sambil tersenyum dan mengarahkan tanganku kearahnya untukberjabat tanga.
“Amanda”. Ucapnya dengan senyum indah yang terlukis dariwajahnya. Sejakhari itu
aku sering belajar bersamadengan Amanda, aku merasasangat terbantu dengan kehadiran
hingga membuatku yakin jika Ujian Tengah Semester nanti aku bisa mendapat nilai
bagus. Akujuga sesekali mengajak Putri untukbergabung dengankami meskipun dia
lebih sering menolak karena dia tidak terlalu suka dengan Amanda aku tidak tau
alasanya.”Mungkin dia merasa tersaingi dengan Amanda, karena dia juga
termasukorang yang pintar hanya saja dia tidak bisa menmbagi yang dia pikirkan
kepada orang lain,dia tidak bisa mengajariseseorang. Karnaitulah kami dia
tidakbisa membantuku.
“Ana,
Tunggu” aku melihat kearah suara yang memanggilku. Itu Amanda. Aku menunggunya
berlari kearahku. ‘’Ada apa?”. Tanyaku kepadanya.Diahanya menyerahkan selebaran
kertas kearahku. Ituposter lomba debat. Äku memandangi posteritu untuk waktu
yang lama. “Ayo ikut” ucap Amanda dengan suara yang sudah mulaiagak tenang.
“Kau bercanda?” ucapku kearahnya. “Tentu tidak, itu debat akuntansi jika
jikatentang hitungan aku bisa, bagianteori kan kamu jago tuh, lalu yang bisa
untuk berdebat”. “Putri” ucapku sebelum Amanda selesai bicara. Adasedikit
perubahan diwajahnya, tidak seexcited
tadi lagi. Aku tau dia pasti berfikir bagaiman sikap Putri yang kurang
menykainya. “Tenang, aku yang akan urus dia” ucapku sambilmerangkulya. Kini
raut wajahnye kembali seceria tadi.
“Put’
Ucapku memulai permbicaraan. Dia masih tidak nelihat kearahku. “Put,ikut lomba
debat yok. Dia akhirnya melihat kearahku. Aku tau dia masih keast denganku
karna terlalu sibuk dengan Amanda. “Debat apaan”’ ucapnya mulai memberikan
sedikikit perhatian kearahku. “Debat
Akuntansi, aku kamu dan Amanda satu tim”. Rasa kesaltampaklagi dari raut
wajah Putri. “Ayoklah Put,ini pertama kali kita ikut lomba kuliah,mau ya”.
Ucapku sedikit memaksa. Dia hanya mengangguk. “Aku merangkulnya. “Aku anggap
anggukan itu sebagai ya”. Aku beranjakdari kursi sedikit buru-buru. “Mau
kemana” Kata-kata itu membuatku berbalik. “Mau daftar lah’’ ucapku dan berlari.
Kami
mulai mempersiapkan diri untuk kompetisi debat nanti, dari mulai membaca buku
sesuai dengan tema dan mencoba mencari soal-soal yang mungkin berhubungan
dengan tema debatnya. Awalnya memang sulit terkususnya untuk Amanda dan Putri, mereka
memiliki banyakhal yang perlu dipelajari taksering juga menimbulkan perdebatan
yang mana dulu dipelajari tapi lambat laun kami sedikit mulai terbiasa Puti
sudah mulai mendengar pendapat Amanda, begitu juga Amanda. “Nah ini jawabanku”’
ucapa manda kearah kami. Aku dan Putri melihat kertas jawabanya. Menurutku itu
sangat baik. “Jawaban mu memang benar Man, tapi menurutku akan lebih baik jika
kita buat seperti ini saja lebih simple dan menghemat waktu bagaimana”. “Iya
yah,ya udah kalau ada soal seperti ini nanti cara jawabnya gitu aja” Ucap manda. “Nah gitulah”.Ucapku memandang
mereka Berdua yang hanya menunjukkan senyumindah masing.
Tidak
terasa,hari Hlomba sudah tiba. Aku yakin kami bisa memberikan yang terbaik.
Selama debat kami berusaha memberikan yang terbaik, Aku yang lumayang dalam hal
menganalisa lebih sering memberikan tanggapan kepada lawan. Sedangkan Putri
lebih sering membantah apayang dikatankan pihak lawan, dan Amanda yang
memberikan solusi. Ketika di babak Semi Final kami gagal melawan Kelompok dari
universitas lain. Aku tidak sedih akan tetapi bisa juara sudah sangat
membanggakan bagiku. Dan lagi aku mendapat dua sahabat yang luarbiasa.
Perbedaan pendapat, kemampuan kami yang berberda-beda,cara bicara, dan juga
cara berfikir bisa kami satukan hanya dengan satu tujuan yaitu untukm melakukan
yang terbaikuntuk satu tjuan. Aku belajar dari hal petualang ku ini,
perbedaanitu ada bukan untuk membuat kita terpecah tapi untuk membuat kita
berwarna dan hal kecil yang dapat menyatukan perbedaan adalah satukan tujuan.

Komentar
Posting Komentar